Assalamualaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh, Selamat datang di website Bengkulu Aqiqah, Silahkan konsultasikan kepada kami perihal Aqiqah putra-putri anda melalui Line SMS atau Telpon di 0857-9181-7595

Monday, May 7, 2018

Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)

Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)
Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)
Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)Imam  Syafi’i berpendapat, bahwa penentuan hari ketujuh itu hanya lil ikhtiar (untuk pilihan) bukan litta’yin (untuk menentukan/memastikan).

Bila tidak mampu mengaqiqahi di hari ketujuh, maka masih boleh mengaqiqahi pada hari keempat belas/kedua puluh satu. Dan bila bayi ternyata meninggal sebelum hari ketujuh maka tidak perlu diaqiqahi. (HR. Ibnu Sunni)

Yang Disunahkan Pada Hari Aqiqah

Untuk anak laki-laki dua ekor kambing/domba, Karena Rasulullah mengaqiqahkan Al-hasan dengan dua ekor domba. Disunahkan agar bayi di beri nama pada hari itu dengan memilih nama yang terbaik, dicukur rambutnya lalu ditimbang kemudian di keluarkanlah sedekah berupa emas dan perak seberat rambutnya. Sabda rasulluah: “ setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, karena itu hendaklah disembelihkan untuk nya pada hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur rambut kepalanya”

Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)

Tuesday, January 16, 2018

Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)

Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)
Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)
Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)Menyembelih hewan kurban adalah salah satu dari bentuk syi‟ar Allah SWT dan Sunnah

Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam al-Qur‟an:

“Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka
sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati”. (Qs. al-Hajj [22]: 32).

Umat Islam diperintahkan agar mengikuti perbuatan Rasulullah SAW sebagai suri
tauladan, sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Qs. al-Ahzâb [33]: 21). Dan salah satu perbuatan Rasulullah SAW yang mesti diikuti adalah menyembelih hewan kurban.

Imam Nawawi berkata, “Menurut mazhab kami (Mazhab Syafi‟i), berkurban itu lebih afdhal daripada bersedekah Sunnat, berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan masyhur tentang keutamaan berkurban dan karena dasar kewajiban melaksanakannya, berbeda dengan sedekah Sunnat. Juga karena berkurban itu adalah syi‟ar yang nyata”1. Meskipun boleh hukumnya bersedekah mengeluarkan uang seharga hewan kurban, akan tetapi berkurban tetap lebih afdhal, demikian disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal secara nash2. Ibnu al-Musayyib berkata: “Saya lebih suka berkurban daripada bersedekah seratus Dirham”3.

Kesimpulannya, bersedekah mengeluarkan uang seharga hewan kurban itu hukumnya boleh. Namun lebih afdhal jika menyembelih hewan kurban. Akan tetapi dalam masalah ini perlu diperhatikan berbagai aspek; efisiensi, efektifitas, kondisi dan maslahat.

Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)

Sunday, January 14, 2018

Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)

Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)
Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)
Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)Anak yang baru lahir, hendaknya diberi nama untuk dikenali. Nama tersebut dapat berpengaruh terhadap diri dan kepribadiannya. Banyak anak yang menderita lantaran diberikan nama-nama yang mengandung arti-arti yang tidak baik.

Waktu Pemberian Nama
Dalam banyak hadis disebutkan tentang diperbolehkannya memberi nama bayi saat ia dilahirkan, setelah tiga hari dan pada hari ketujuh, yaitu pada hari dimana dia diakikahkan. Dalam hal waktu pemberian nama untuk anak, kita diberikan kemudahan. Alhamdulillah. 

Adapun hadis yang menyebutkan tentang bolehnya memberi nama bayi pada hari kelahirannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari ra. berkata, “Anakku baru dilahirkan. Lalu aku membawanya menghadap Rasulullah Saw, kemudian beliau memberinya nama Ibrahim, beliau juga men-tahnik-nya dengan kurma (mengunyah kurma lalu menempelkannya di ujung jari kemudian memasukkannya dan mengoleskannya pada langit-langit mulut sang bayi).” 

Sementara dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis dari Sulaiman ibn Mughirah dari Tsabit bahwa Anas ra. Berkata. Rasulullah Saw telah bersabda, “Pada mala mini dilahirkan seorang anakku, lalu aku memberinya nama seperti nama ayahku, Ibrahim a.s.” 

Adapun hadis yang menerangkan tentang bolehnya memberi nama setelah tiga hari dari kelahirannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya bahwa Tsabit meriwayatkan dari Anas ra. bahwa seorang bayi hendaknya diberi nama setelah tiga hari dari kelahirannya. 

Sementara hadis yang menjelaskan tentang bolehnya memberi nama bayi pada hari ketujuh adalah hadis yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan dari hadis Samurah ibn Jundab bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, yaitu seekor kambing yang disembelih untuknya pada hari ketujuh lalu si anak diberi nama dan rambut kepalanya dicukur.” 
Jika terjadi perselisihan antara ayah dan ibu seputar nama anak maka perlu diketahui bahwa memberikan nama anak adalah hak ayah. 

Nama-nama yang Disunnahkan
Diantara hal yang harus dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya adalah memberikan nama yang bagus. Karena kelak di Hari Kiamat mereka akan dipanggil dengan nama tersebut dan dengan nama orang tua mereka. 

Maka jangan sampai (di akhirat kelak) seorang anak dipanggil dengan nama yang diharamkan atau nama yang buruk yang diberikan oleh orang tuanya pada saat hidup di dunia. Karena itu, Nabi memerintahkan untuk memberi nama yang baik kepada anak-anak. 

Setiap nama yang digabungkan kepada nama Allah, setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada-Nya atau nama-nama para Nabi itu semua termasuk nama-nama yang baik. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar ra. Berkata. Rasulullah Saw telah bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurahman.” 

Hadis diatas berbeda dengan apa yang dikatakan kalangan orang awam bahwa nama yang baik adalah semua nama yang berawalan ‘Abd atau Ahmad.

Nama-nama yang Dimakruhkan
Sebagaimana Rasul sangat menganjurkan orang tua memberi nama yang baik untuk anaknya, beliau juga sangat tidak menyukai pemberian nama anak-anak mereka dengan nama-nama yang membuat mereka merasa tidak nyaman atau membuat mereka diejek dan dihina oleh orang lain lantaran nama-nama itu.

Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud dari Samurah ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Empat perkataan yang paling disukai Allah, yaitu subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha ilallah, allahu akbar. Janganlah sekali-kali engkau menamakan anak dengan ‘Yasar’ (yang selalu mendapatkan kemudahan), ‘Rabah’ (yang selalu beruntung), ‘Najih’ (yang selalu berhasil), dan juga ‘Aflah’ (yang beruntung). Karena bila suatu saat engkau mempertanyakan, ‘Apakah anak itu (yang bernama seperti di atas) selalu sesuai dengan namanya?’ Pada kenyataannya sifat anak itu berbeda dengan nama yang disandangnya sehingga ia menjawab, ‘Tidak’.” 

Sebab yang menjadikan sebuah nama itu makruh diberikan kepada anak adalah karena dapat melenyapkan rasa optimisme anak yang bernama Yasar, Rabah, Najih, Aflah. Karena orang akan bertanya, “Apakah kemudahan ada padamu?” Ia menjawab, “Tidak.” Maka hati orang tersebut merasa tidak berkenan (bahkan sang anak dapat kehilangan rasa optimismenya). 

Nama yang juga termasuk kategori nama-nama di atas adalah Mubarak (selalu penuh berkah), Ni’mah (berlimpah kenikmatan), Khair (selalu baik), dan Surur (selalu bahagia). 

Diantara nama-nama yang dimakruhkan lainnya adalah memberi nama anak dengan nama yang mengandung makna penyucian diri. Seperti Karim atau Karimah (yang mulia), Barr atau Barrah (yang berbakti) sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Bukhari dan Sunan Abi Daud, dari Abu Hurairah ra., bahwa Zainab nama sebelumnya adalah Barrah (yang berarti wanita berbakti)-terambil dari kata al-birru (kebaikan)-maka Nabi menggantinya dengan Zainab.  

Sedangkan dalam riwayat Abu Daud disebutkan. “Janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri, sebab Allah lebih mengetahui siapa ahli kebaikan diantara kalian.” 

Dimakruhkan juga memberi nama anak dengan nama orang-orang yang telah dilaknat dan para diktator seperti, Fir’aun, Haman, Qarun, Namrud. Karena nama-nama tersebut adalah nama orang-orang yang telah diberi azab (siksa) oleh Allah SWT. di dunia. Allah juga menjanjikan siksaan yang pedih kepada mereka kelak di hari kiamat. 

Dimakruhkan juga memberi nama anak dengan nama orang-orang kafir Yahudi dan Nashrani atau dengan nama pemimpin-pemimpin kafir yang mengganti syariat Allah dengan aturan kafir. 

Dimakruhkan juga member nama anak dengan nama-nama Allah SWT. (Asma’al-Husna) seperti al-Ahad, ash-Shamad, as-Sami’, atau al-‘Alim. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang yang berhak memakai nama tersebut kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah).” (QS. Maryam: 65). 

Tetapi jika kita memberitahukan bahwa ada seseorang yang memiliki sifat Sami’ (mendengar), Ra’uf (penyayang), Rahim (pengasih), dan Bashir (mengetahui kondisi masyarakat) maka hal ini dibolehkan. 

Termasuk nama-nama yang dimakruhkan untuk digunakan seseorang adalah nama-nama malaikat seperti Jibril, Mikail, dan Israfil. Karena jika anak yang bernama seperti nama malaikat dicaci dan dihina maka hal itu (secara tidak langsung) dianggap menghina dan mengejek malaikat. 

Dimakruhkan juga menggunakan nama-nama surah dalam Alquran, seperti Thaha, Yasin, Qaf, Nun, Hamim. Adapun yang sering diungkapkan oleh kalangan awam bahwa Yasin dan Thaha adalah nama-nama Nabi Saw, tidaklah benar. 

Tidak ada hadis shahih, hasan, mursal bahkan atsar dari seorang sahabat sekalipun yang menjelaskan bahwa Thaha dan Yasin adalah nama-nama Nabi Saw Tidak ada seorang tabi’in atau pengikut tabi’in yang menyandang nama Thaha atau Yasin. Thaha dan Yasin (serta huruf-huruf lain sejenisnya dalam Alquran) hanyalah huruf-huruf yang terpotong-potong yang digunakan oleh Allah untuk menjelaskan I’jaz (mukjizat) Alquran kepada bangsa Arab (Allah menantang mereka membuat kitab seperti Alquran yang huruf-hurufnya sama dengan huruf-huruf yang mereka pakai seperti huruf ya, sin, tha, dan lain sebagainya) 

Dari semua nama-nama yang dimakruhkan di atas, dapat kita pahami bahwa Rasulullah Saw menyukai nama-nama yang mengandung kebaikan dan tidak menyukai nama yang buruk sehingga beliau menganjurkan untuk menggantinya.

Rasulullah pernah mengubah nama Abdul Uzza dengan Abdullah atau Abdurrahman, Sha’b (susah) menjadi Sahl (mudah), Ashiyah (ahli maksiat) menjadi Jamilah (si cantik), Abul Hakam menjadi Abu Syuraih, Ashram (tanah yang tandus) menjadi Zur’ah (lahan yang mudah diolah). 

Tidak hanya itu, mengenai nama-nama kabilah beliau juga memberikan komentar. Mengenai Kabilah Aslam (yang selamat) beliau berkomentar, “Semoga Allah member keselamatan padanya,” Kabilah Ghifar (ampunan) beliau berkomentar, “Semoga Allah memberikan ampunan kepadanya,” dan Kabilah Ushayyah (ahli maksiat) beliau berkomentar, “Mereka bermaksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.”. 

Beliau juga pernah mengganti nama tempat tinggal yang buruk dengan nama yang baik. Beliau mengganti Afirah (tempat yang berdebu) menjadi Khadhitah (tempat yang hijau), Syi’b Dhalalah (lembah kesesatan) menjadi Syi’b al-Huda (lembah petunjuk). Ketika Nabi Saw datang ke Madinah yang pada saat itu bernama Yatsrib (berarti mencela) menjadi Thaybah (baik) tidak heran kalau kota tersebut bertambah baik. 

Jadi, jelas bagi kita bahwa memberikan nama yang bagus merupakan perkara penting yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. karena nama dapat berpengaruh terhadap kepribadian anak yang menyandang nama itu. 

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, dari Sa’ad ibn Musayyib dari ayahnya dari kaeknya, ia (kakek) menuturkan, “Aku pernah datang menemui Rasulullah Saw. lalu beliau bertanya, ‘Siapa namamu?’ Aku (kakek) manjawab, ‘Hazan’ (sulit atau kasar). Kemudian beliau bersabda, ‘Tidak, engkau adalah Sahl (mudah, lembut).’ Aku tidak mau mengubah nama yang telah diberikan ayahku.” Ibnu Musayyib menuturkan, “Dan ternyata, kekasaran menjadi karakter kami, di kemudian hari.” 

Diantara hal yang harus diperhatikan juga pada pembahasan kali ini adalah hendaknya para orang tua tidak memberikan nama anaknya dengan menggunakan nama-nama yang mengandung arti kepandiran atau nama-nama yang akan membuat sang anak merasa tidak nyaman dan diejek lantaran menyandang nama itu seperti, Nasywah (mabuk), Nuhad (kurang lebih), Gharam (cinta yang menyala), Huyam (cinta yang meluap), Ahlam (mimpi-mimpi), Asyjan (kesegihan), dan Syauq (kerinduan). 

Berkaitan dengan nama-nama tersebut, Syaikh Abdullah Nasih Ulwan berkomentar, “Bagi para orang tua hendaknya waspada, jangan sampai menggunakan nama-nama tersebut untuk anaknya, mengapa? Agar umat Islam memiliki kepribadian yang istimewa (berbeda dengan kepribadian umat yang lain) serta dapat dikenali dari berbagai karakteristik yang dimilikinya. 

Nama-nama di atas mengisyaratkan bahwa umat Islam telah kehilangan eksistensinya bahkan nama-nama tersebut akan menghancurkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat islam. Pada saat umat Islam telah sampai pada tahap yang memprihatinkan ini, mereka akan terpecah-pecah. Hal ini dapat memberikan peluang bagi musuh dan penjajah dengan mudah dapat menguasai tanah air umat Islam, serta dengan leluasa menjadikan pengikutnya yang mulia berubah menjadi hina sebagaimana yang kita saksikan zaman sekarang. La haula wa la quwwata illa billah. 

Nama-nama yang Diharamkan
Adapun nama-nama yang diharamkan penggunaannya adalah setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, seperti nama Abdul Uzza (hamba Uzza), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), Abdul Hubal (hamba Hubal), dan nama-nama lain yang serupa dengan itu yang baru muncul setelah abad ketiga dari masa Rasulullah seperti Abdurrasul (hamba rasul), Abdunnabi (hamba nabi), Abdu Muhammad (hamba Muhammad), Abdul Husain (hamba Husain), Abdul Ali (hamba Ali), Abdul Musthafa (hamba Musthafa), dan lain sebagainya. 

Diharamkan juga memberi nama Malikul Muluk (Raja Diraja), Sulthanus Salathin (Sultan Segala Sultan), Syahusyah (Raja Diraja). 

Disebutkan dalam shahihain sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah Malikul Muluk (Sang Raja Diraja) yang disandang oleh seseorang.”. Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya tidak ada Raja selain Allah.” 

Kunyah (Julukan)
Diperbolekan memberikan julukan (kunyah) kepada anak kecil dengan Abu Fulan atau Ummu Fulan, karena hal itu termasuk penghormatan kepada penyandang julukan tersebut. Disebutkan dalam Shahihain sebuah hadis dari Anas ra., ia menuturkan, “Nabi Saw adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki seorang saudara yang biasa dipanggil dengan julukan Abu Umair.” Perawi hadis menyebutkan pada akhir hadis, “Aku mengira, kala itu Abu Umair baru saja disapih.” 

Adapun hukum memberi julukan kepada anak kecil dengan julukan Nabi adalah makruh. Disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir, ia berkata, “Ada seorang anak lahir, lalu diberi nama Muhammad oleh ayahnya. Lantas, masyarakat di sekitar itu berkata, ‘Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah.’ 

Sang ayah pergi sambil menggendong anaknya menemui Rasulullah Saw. lantas ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki seorang anak, lalu kuberi nama Muhammad. Masyarakat di sekitarku berkata, ‘Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah.’ 

Rasulullah pun bersabda, ’Berilah nama anakmu dengan namaku. Namun, janganlah engkau memberinya kunyah (julukan) seperti kunyahku. Aku hanya ‘Qasim’ (seorang pembagi), yang membagi-bagikan kebaikan diantara kalian’.” 

Sementara Bukhari meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah nama anakmu dengan namaku, namun janganlah engkau memberinya kunyah (julukan) seperti kunyahku.” 

Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ali tentang adanya rukhshah (keringanan) tentang memberi julukan kepada anak kecil dengan julukan Nabi, ia berkata “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika anakku telah lahir, bolehkah aku menamainya dengan namamu dan member julukan dengan julukanmu? Nabi menjawab, ‘Ya’.” (Sanad hadis ini sahih)

Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)

Tuesday, January 9, 2018

Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)

Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)
Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)
Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)Terdapat hadis-hadis dari Aisyah, bahwa beliau mengatakan,

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia; rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.”

Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah.

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan,

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zhahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi) bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ahli hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi, beliau hanya mengatakan, “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagai ana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silahkan dirujuk. (Faidhul Qadir, 5:198)

Karena itu para ulama menilai hadis ini sebagai hadis dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan,

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” (Syu’abul Iman, no. 6488).

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar,

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini dhaif. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan semuanya dhaif.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan, “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat, tidak mengapa.” Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19.

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Disamping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan, “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali bukanlah menganjurkan Anda untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali tidak menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat dilarang syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, di kubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan syirik kecil.

Selanjutnya, berikut hal penting yang perlu kita perhatikan terkait masalah semacam ini.

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan, “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:
Sebab syar’i, yaitu ketetapan bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran) bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (sunnatullah), adalah ketetapan bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiyah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syar’i maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk syirik kecil.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin tidak ada hubungan sama sekali antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang tidak berdasar dan tidak selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin yang berakal.
Allahu a’lam

Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)

Thursday, December 28, 2017

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)
Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)Sudah sepantasnya jika kita selaku umat Islam selalu mengikuti anjuran dan nasehat dari Nabi Muhammad Saw. sebagian dari nasehat beliau adalah agar para orang tua memberikan nama yg bagus dan penuh arti yg baik pada sang buah hati

Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits riwayat imam Abi Daud dari Abi Dardaara, yg bunyinya sbb:

Rasulullah berkata: sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu. Maka baguskanlah nama-namamu

Maksud oemberian nama yg bagus serta memiliki makna yg penuh arti, mempunyai beberapa manfaat sbb:

  • mengamalkan anjuran Rasulullah Saw
  • enak didengar dan enak diucapkan karena karena pelafalan dan artinya bagus
  • nama yg bagus dan bagus dan bermakna akan memengaruhi jiwa dan kehidupan sang buah hati. hal ini diisyaratkan dalam sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan Sa’iid bin al-Musayyab dari ayah dan kakeknya:

ia berkata bahwa saya mendatangi Nabi Saw. Nabi bertanya “siapa namamu?” ia menjawab “saya Hazan (kesedihan)”. kemudian Rasul menggantinya dengan ucapan “kamu adalah Sahal (kemudahan)”. Hazan menjawab “saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan ayahku”. Ibnu Musayyab berkata “tidak akan berhenti kesedihan kepada kami setelahnya

secara tidak langsung ketika kita menyebut nama sang buah hati, kita sedang mendoakannya sesuai dengan makna dari nama tersebut. misalnya jika anda memilihkan nama shalih (berarti orang yg saleh) maka ketika kita memanggilnya, sama halnya dengan mendoakannya menjadi orang yang saleh
anak memiliki ciri/identitas ketika dipanggil, baik di dunia fana ketika bergaul dengan sesama dan ketika di akhirat ketika menghadap padaNya


Tips Memberi Nama Bayi yang Islami

  1. gunakan nama serta rangkaian nama yang merujuk pada kebaikan sifat, keunggulan karakter dan atau pada kebesaran Allah semata
  2. memberi nama dengan nama-nama Nabi dan Rasul, nama Imam Perawi Hadits atau para Sahabat Rasul yang saleh dan berbudi baik. teriring harapan agar kelak sang buah hati juga beroleh akhlak mulia seperti nama besar yang ia sandang
  3. hindari penggunaan nama yang menghamba pada kekuatan lain selain Allah misalnya: Abdul Uzza (hamba matahari), Abdul Qamar (hamba bulan) atau Abdul Nar (hamba api). juga pada nama berhala dewa-dewi yang disembah oleh orang-orang jahiliyah..                                                                                                                                                                                                                         " Diriwayatkan dari Hani bin Zaid bahwa ketika ia datang menghadap Nabi sebagai utusan beserta kaumnya, beliau mendengar mereka memanggil salah seorang dari mereka dengan Abdul Hajar. Lantas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” la menjawab, “Abdul Hajar.” Beliau bersabda, “Tidak, kamu adalah Abdullah (hamba Allah) bukan Abdul Hajar (hamba batu)"
  4. hindari nama yang merupakan gelar superior seperti Malikul Malik (raja diraja), Haakimul Hukkaam (hakim segala hakim), dll karena gelar-gelar superior seperti itu adalah milikNya semata
  5. jika ingin memberikan nama-nama Allah pada sang buah hati, jangan menggunakan alif dan lam, misalnya al-‘Aziz, as-Sayyid, al-Hakiim. al-Khaliq, ar-Rahiim, al-Quddus, dll. Yang demikian tidak boleh diberikan,  selain kepada Allah saja. adapun jika tanpa alif dan lam, maka diperbolehkan. Contohnya adalah: Rahman, Rahiim, Quddus, Sayyid, dll
  6. bagaimana dengan nama-nama modern (barat)? misalnya: Alex, John, Mark, Francis, dll. sebagai Muslim sebaiknya anda memberi nama sesuai dengan tuntunan syariah agar barokah. nama-nama bayi Barat mempunyai akar nama yg merujuk pada budaya, keyakinan dan agama lain yang pasti berbeda dengan Islam kan? :)



Mengganti Nama Buah Hati yang maknanya Buruk

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami – disebutkan dalam kaidah ushul Fiqh yaitu “perintah atas sesuatu merupakan larangan akan kebalikannya”. Rasulullah Saw menganjurkan agar para orang tua berusaha memberikan nama yang bagus dan bermakna baik dan sebaliknya beliau juga melarang memberikan nama yg maknanya jelek.

Bahkan beliau selalu mengganti nama orang yang dianggapnya jelek atau tidak bermakna. hal ini tergambar dalam sebuah hadits nabi dari Imam at-Turmudzi dan Imam Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra. dijelaskan bahwa Rasulullah   mengganti nama yang dianggapnya buruk menjadi nama yg berarti:

sesungguhnya nama anak perempuan Umar bernama Aas’hiyah kemudian Rasulullah menggantinya dengan nama Jamillah

Aas’hiyah berarti wanita yg pandai berhubungan intim (merujuk pada maksiat) dan Jamillah artinya wanita yang cantik

dari sini diisyaratkan bahwa setiap nama yg mengandung makna jelek atau makna yang kurang jelas dapat diganti dengan nama yang bagus bermakna. alangkah eloknya jika nama-nama bayi ini anda siapkan dan rancang sedini mungkin sebelum sang buah hati lahir.

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)

Wednesday, December 13, 2017

Belum Diakikah Sampai Dewasa (Bengkulu Aqiqah)

Belum Diakikah Sampai Dewasa (Bengkulu Aqiqah)
Belum Diakikah Sampai Dewasa (Bengkulu Aqiqah)
Belum Diakikah Sampai Dewasa (Bengkulu Aqiqah)Barangkali muncul kegelisahan, ketika mendapati diri atau anak kita sudah mencapai usia dewasa, belum juga diakikahi. Karena Nabi shallallahualaihiwa sallam menyebutkan, bahwa seorang anak yang terlahir statusnya tergadai, sampai dia diakikahi.

Dari sahabat Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad 20722, at-Turmudzi 1605, dan dinilai shahih oleh al-Albani).

Perlu kita ketahui, bahwa hukum akikah sebenarnya adalah sunah muakkadah.

Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama sepakat, bahwa waktu akikah yang paling afdhol adalah hari ketujuh kelahiran. Berdasarkan hadis dari sahabat Samurah bin Jundub di atas. Cara menghitungnya, dimulai sejak hari kelahiran, kemudian ditambah enam hari berikutnya.

Namun, bila tidak mampu, akikah boleh dilakukan setelahnya sampai ada kemampuan, meskipun si anak sudah mencapai dewasa. Hal ini berdasar pada perbuatan Nabi shallallahua’alaihi wa sallam, dimana beliau mengakikahi diri beliau sendiri di saat beliau sudah mencapai usia dewasa. Imam Tabrani meriwayatkan hadis yang menjadi dasar kesimpulan ini,

أن النبي صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد ما بعث نبياً

Bahwa Nabi shallallahua’alahi wa sallam meng-akikahi diri beliau sendiri, setelah beliau diutus menjadi Nabi. (Dinilai shahih oleh Syaikh Albani, dalam Silsilah As-Shahihah).

Inilah pendapat yang kami nilai kuat diantara persilangan pendapat ulama yang ada dalam masalah ini. Riwayat di atas, juga menunjukkan bolehnya seorang mengakikahi dirinya sendiri, apabila orangtuanya belum mengakikahi dirinya ketika kecil atau karena orangtuanya tidak mampu menunaikan akikah untuknya.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

فلو ذبحها بعد السابع أو قبله وبعد الولادة أجزأه وإن ذبحها قبل الولادة لم تجزه بلا خلاف, بل تكون شاة لحم

Seandanya kambing akikah disembelih sebelum atau setelah hari ketujuh, maka hukumnya sah. Adapun bila disembelih sebelum kelahiran, para ulama sepakat akikah tidak sah. Status kambing yang disembelih adalah sembelihan biasa (tidak teranggap sebagai akikah). (Al-Majmu’ 8/411).

Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

ووقتها يوم السابع، هذا هو الأفضل اليوم السابع، وإن ذبحت بعد ذلك فلا حرج، ولو بعد سنة أو سنتين، وإذا لم يعق عنه أبوه وأحب أن يعق عن نفسه فهذا حسن فمشروع في حق الأب لكن لو عق عن نفسه أو عقت عن أمه أو أخوه فلا بأس

Waktu pelaksanaan akikah adalah hari ketujuh kelahiran. Inilah waktu yang paling utama, yaitu hari ketujuh. Namun bila kambing akikah disembelih setelah hari ketujuh, tidak mengapa. Bahkan sampai satu atau dua tahun setelahnyapun tidak mengapa. Jika ayahnya belum menunaikan akikah anaknya, sementara anak tersebut ingin mengakikahi dirinya, inipun baik (sah). Meski sebenarnya akikah adalah tanggungan ayah, akak tetapi bila seorang ingin mengakikahi dirinya, atau mengakikahi ibu atau saudaranya, maka tidak mengapa.

Belum Diakikah Sampai Dewasa (Bengkulu Aqiqah)

Sunday, November 12, 2017

Apakah non-muslim boleh makan daging Aqiqah (Bengkulu Aqiqah)

Apakah non-muslim boleh makan daging Aqiqah (Bengkulu Aqiqah)
Apakah non-muslim boleh makan daging Aqiqah (Bengkulu Aqiqah)
Apakah non-muslim boleh makan daging Aqiqah (Bengkulu Aqiqah)Boleh-boleh saja memberikan sedekah dalam bentuk apapun kepada non-muslim, baik berupa daging hewan akikah maupun lainnya. Hal ini didukung oleh sejumlah nas Alquran. Di antaranya Allah befirman,

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS al-Mumtahanah: 8)

Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (QS al-Insan: 8)

Menurut para ulama ayat di atas berlaku mutlak, di mana orang yang ditawan adalah para musuh yang berasal dari kalangan non-muslim yang tetap dalam agama mereka. Nabi saw. juga sering memberikan makanan kepada orang yahudi. Umar juga pernah memberi kepada peminta-minta yang beragama Yahudi. Serta berbagai contoh lainnya.

Namun, kalau bentuknya zakat para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh diberikan kepada non-muslim.

Selanjutnya acara aqiqah juga boleh digabungkan dengan acara pernikahan adik. Hanya saja yang harus diperhatikan bahwa pembagian daging aqiqah hendaknya diberikan sesuai dengan cara yang dianjurkan: yaitu sepertiga boleh dikonsumsi sendiri, seperti untuk kerabat dan tetangga, sementara sepertiga lagi untuk para fakir miskin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Apakah non-muslim boleh makan daging Aqiqah (Bengkulu Aqiqah)

Friday, November 10, 2017

Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)

Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)
Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)
Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah) - Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)

Terdapat beberapa pendapat ulama dalam masalah ini.

Menurut Mazhab Syafi‟i, tidak boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika orang yang telah meninggalkan dunia itu meninggalkan wasiat sebelum ia meninggal. Karena Allah SWT berfirman:


 وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (Qs. An-Najm [53]: 39).

Jika orang yang telah meninggalkan dunia tersebut meninggalkan wasiat, maka orang yang menerima wasiat melaksanakannya dan semua dagingnya mesti disedekahkan kepada fakir miskin. Orang yang melaksanakan wasiat dan orang lain yang mampu tidak boleh memakan daging kurban tersebut, karena tidak ada izin dari orang yang telah meninggal dunia untuk memakan daging kurban tersebut.
Menurut Mazhab Maliki, makruh hukumnya berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia, jika orang yang meninggal dunia itu tidak menyatakannya sebelum ia meninggal. Jika orang yang meninggal itu menyebutkannya sebelum ia meninggal dan bukan nadzar, maka ahli warisnya dianjurkan agar melaksanakannya.


Menurut Mazhab Hanbali, boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia, daging hewan kurban tersebut disedekahkan dan dimakan, balasan pahalanya untuk orang yang telah meninggal dunia tersebut.
Mazhab Hanafi berpendapat sama seperti pendapat Mazhab Hanbali, akan tetapi menurut Mazhab Hanafi haram hukumnya memakan daging kurban yang disembelih untuk orang yang telah meninggal dunia berdasarkan perintahnya, semua dagingnya mesti diserahkan kepada fakir miskin1
Apakah hukum menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal (Bengkulu Aqiqah)

1 Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, DR.Wahbah az-Zuhaili, 4/2744.