Assalamualaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh, Selamat datang di website Bengkulu Aqiqah, Silahkan konsultasikan kepada kami perihal Aqiqah putra-putri anda melalui Line SMS atau Telpon di 0857-9181-7595

Tuesday, August 20, 2019

Anak Tidak di Aqiqah Tidak Dapat Memberikan Syafa'at Kepada Kedua Orang Tuanya ? (Bengkulu Aqiqah)

Anak Tidak di Aqiqah Tidak Dapat Memberikan Syafa'at Kepada Kedua Orang Tuanya ? (Bengkulu Aqiqah)
Anak Tidak di Aqiqah Tidak Dapat Memberikan Syafa'at Kepada Kedua Orang Tuanya ? (Bengkulu Aqiqah) - Banyak pertanyaan diatas yang dilontarkan kepada kami selaku penyedia layanan jasa aqiqah di bengkulu. Semoga Jawaban berikut bisa memberikan sedikit pemahaman tentang risalah aqiqah kepada para pembaca.
Mengenai Pertanyaan tersebut, bahwa Penetapan seperti itu tidaklah diperjelas dengan dalil, namun itu berdasarkan pemahaman dari sebagian ulama, ketika Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّي
“Setiap bayi tergadai dengan aqiqohnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama”.
Maka diantara ulama ada yang memahami hadits tersebut dengan pemahaman bahwa itu berkaitan dengan syafa’at, maksudnya orang tua yang tidak melaksanakan aqiqoh anaknya, kemudian anak tersebut meninggal dunia waktu kecilnya maka dia tidak dapat memberikan syafa’at.
Dan ini hanyalah suatu pendapat yang tidak dikuatkan dengan dalil, sementara dalil lain menerangkan bahwa setiap anak yang meninggal dalam keadaan belum baligh maka dia akan menjadi pemberi syafa’at kepada kedua orang tuanya bila keduanya termasuk dari kalangan ahlu tauhid, tidak ada keterangan bahwa anak tersebut khusus yang sudah diaqiqohkan, bahkan ada dalil yang memperjelas bahwa keumuman untuk semua anak yang meninggal dalam keadaan belum baligh, bahkan janin sekalipun, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
(إِذَا ماتَ ولدُ العَبْدِ، قالَ اللهُ لمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: قَبَضْتُم ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: مَاْذَا قالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بيتَ الحَمْدِ)
“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Alloh berkata kepada malaikat: Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?. Mereka menjawab: “Iya”. Alloh berkata lagi: Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?. Mereka menjawab: “Iya”. Alloh bertanya lagi: Apa yang diucapkan hamba-Ku?. Malaikat menjawab: Dia memuji-Mu dan mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Kemudian Alloh berkata: “Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah istana di surga, dan mereka menamainya dengan Baitul Hamdi (istana Al-Hamd)”. Dalam riwayat lain:
يقال لهم ادخلوا الجنة فيقولون حتى يدخل آباؤنا فيقال ادخلوا الجنة أنتم وآباؤكم
“Dikatakan kepada para anak (yang mati sebelum baligh itu), masuklah kalian ke dalam surga”. Maka para anak itu mengatakan: “(Kami tidak akan masuk) sampai orang tua kami masuk surga. Maka dikatakan: “Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian”.
Dari keterangan ini masuk pada keumuman anak-anak yang belum baligh, sama saja yang sudah diaqiqohkan atau pun yang belum, bahkan janin sekalipun masuk pada keumuman tersebut, dan kita ketahui bersama bahwa janin tidak diaqiqohkan sebagaimana bayi yang meninggal dibawa umur tujuh hari, An-Nawawiy Rohimahulloh berkata:
موتُ الواحدِ من الأولادِ حجابٌ منَ النار، وكذا السقطُ
“Kematian salah seorang dari anak adalah penghalang dari api neraka demikian pula janin yang keguguran”.
Dan perkataan beliau ini berdasarkan hadits yang layak untuk dijadikan hujjah, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
والذي نفسي بيده إن السقط ليجر أمه بسرره إلى الجنة إذا احتسبته
“Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan bersama ari-arinya apabila ibunya mengharap pahala dari Alloh (dengan musibah tersebut)”.
Anak Tidak di Aqiqah Tidak Dapat Memberikan Syafa'at Kepada Kedua Orang Tuanya ? (Bengkulu Aqiqah)

Thursday, August 15, 2019

Hukum Daging Aqiqah Untuk Resepsi Perkawinan dan Pesta Nikah (Bengkulu Aqiqah)


Hukum Daging Aqiqah Untuk Resepsi Perkawinan dan Pesta Nikah (Bengkulu Aqiqah)
Hukum Daging Aqiqah Untuk Resepsi Perkawinan dan Pesta Nikah (Bengkulu Aqiqah)

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Aqiqah memang merupakan sunnah, rencananya calon istri sy akan aqiqah pada saat kami menikah, pertanyaannya:

1. Apakah boleh aqiqah saat menikah?
2. Ketika aqiqahnya saat menikah, apakah diperbolehkan masakan dagingnya disajikan sbg tambahan menu makanan saat prasmanan utk para tamu yg menghadiri akad / resepsi/ walimatul ursy
3. Bagaimana baiknya?

Terima kasih, semoga selalu mendapat berkah dan rahmah dari Allah, amin. 

JAWABAN

1. Boleh. Sebenarnya pertanyaan yang lebih tepat bukan soal aqiqah saat menikah atau tidak menikah tapi bolehkah aqiqah setelah baligh? Karena aqiqah umumnya itu dilakukan sebelum baligh, bahkan saat bayi. Dan jawabannya adalah boleh dan tetap sunnah aqiqah dilakukan saat usia dewasa. 

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 8/412, berkata:


قَالَ أَصْحَابُنَا: وَلَا تَفُوتُ بِتَأْخِيرِهَا عَنْ السَّبْعَةِ. لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُؤَخِّرَ عَنْ سِنِّ الْبُلُوغِ. قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْبُوشَنْجِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِنَا: إنْ لَمْ تُذْبَحْ فِي السَّابِعِ ذُبِحَتْ فِي الرَّابِعَ عَشَرَ، وَإِلَّا فَفِي الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ، ثُمَّ هَكَذَا فِي الْأَسَابِيعِ. وَفِيهِ وَجْهٌ آخَرُ أَنَّهُ إذَا تَكَرَّرَتْ السَّبْعَةُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَاتَ وَقْتُ الِاخْتِيَارِ. قَالَ الرَّافِعِيُّ: فَإِنْ أَخَّرَ حَتَّى بَلَغَ سَقَطَ حُكْمُهَا فِي حَقِّ غَيْرِ الْمَوْلُودِ. وَهُوَ مُخَيَّرٌ فِي الْعَقِيقَةِ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ: وَاسْتَحْسَنَ الْقَفَّالُ وَالشَّاشِيُّ أَنْ يَفْعَلَهَا



Artinya: Ulama Syafi'iyah menyatakan: mengakhirkan aqiqah dari hari ketujuh tidak dianggap terlambat. Akan tetapi disunnahkan tidak mengakhirkannya sampai usia akil baligh. Abu Abdillah Al-Busyanji, salah satu ulama mazhab Syafi'i, berkata: Apabila aqiqah tidak dilakukan pada hari ketujuh maka dilakukan di hari ke-14, kalau tidak pada hari ke-21, demikian seterusnya kelipatan tujuh. Ada pendapat lain bahwa apabila tujuh berulang sampai tiga kali maka habislah masa memilih. Imam Rofi'i berkata: Apabila mengakhirkan aqiqah sampai akil baligh maka gugur hukum aqiqah bagi selain anak yang lahir. Ia boleh akikah untuk dirinya sendiri. Imam Rafi'i berkata: Al-Qoffal dan Al-Syasyi menganggap baik melakukannya (akikah untuk diri sendiri)

2. Masakan daging dari aqiqah boleh digunakan untuk apa saja dan diberikan kepada siapa saja. Baik dalam keadaan mentah atau matang, namun menyuguhkan dalam keadaan matang lebih disunnahkan. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 8/411, menyatakan: 


قال جمهور أصحابنا : يستحب أن لا يتصدق بلحمها نيئا بل يطبخه وذكر الماوردي أنا إذا قلنا بالمذهب : إنه لا تجزئ دون الجذعة والثنية وجب التصدق بلحمها نيئا . وكذا قال إمام الحرمين إن أوجبنا التصدق بمقدار من الأضحية والعقيقة وجب تمليكه نيئا ، والمذهب الأول ، وهو أنه يستحب طبخه . 



Artinya: Jumhur (mayoritas) ulama madzhab Syafi'i berpendapat sunnah tidak mensedekahkan dagingnya dalam keadaan mentah, tapi dimasak dulu. Menurut Al-Mawardi, wajib memberikan daging secara mentah. Imam Al-Haramain berpendapat serupa. Madzhab yang terpilih adalah yang pertama yakni sunnah memasak daging aqiqah. 

Tentang bolehnya daging aqiqah untuk dikonsumsi dalam acara walimah, Wahbah Zuhaily dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, hlm. 4/287, menyebutkan sejumlah pendapat ulama sbb:


حكم اللحم كالضحايا، يؤكل من لحمها، ويتصدق منه، ولا يباع شيء منها. ويسن طبخها، ويأكل منها أهل البيت وغيرهم في بيوتهم، وكره عند المالكية عملها وليمة يدعو الناس إليها. ويجوز عند المالكية: كسر عظامها، ولا يندب. وقال الشافعية والحنابلة:يجوز اتخاذ الوليمة، ولا يكره كسر العظام، إذ لم يثبت فيه نهي مقصود، بل هو خلاف الأولى، ويستحب أن تفصل أعضاؤها، ولا تكسر عظامها، تفاؤلاً بسلامة أعضاء المولود، لما روي عن عائشة، أنها قالت: «السنة شاتان مكافئتان عن الغلام، وعن الجارية شاة تطبخ جُدولاً



Artinya: Hukum daging aqiqah seperti halnya daging qurban boleh dimakan dagingnya (bila tidak berupa aqiqah wajib/nadzar) dan disedekahkan sebagiannya, jangan ada yang dijual, disunahkan memasak dagingnya dimakan sekeluarga dan lainnya dalam rumah. Menurut kalangan Malikiyyah makruh hukumnya menjadikan aqiqah sebagai bentuk walimah dengan mengundang orang menikmatinya namun menurut kalangan ini boleh memecah tulang-tulang binatang aqiqah tapi tidak disunahkan. Menurut kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah boleh dijadikan walimah karena tidak terdapat dalil pelarangan tentangnya hanya saja hukumnya Khilaf Aula (menyalahi keutaman) tapi tulang hewan aqiqahnya jangan dipecah sebagai bentuk pengharapan baik atas keselamatan anggauta tubuh anak yang dilahirkan berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah ra “Yang sunah untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama sedang anak perempuan seekor kambing dengan di masak per anggauta badan”

Hukum Daging Aqiqah Untuk Resepsi Perkawinan dan Pesta Nikah (Bengkulu Aqiqah)


Biaya Usaha Kambing Akikah Tahap Awal (Bengkulu Aqiqah)

Biaya Usaha Kambing Akikah Tahap Awal (Bengkulu Aqiqah)

Biaya Usaha Kambing Akikah Tahap Awal (Bengkulu Aqiqah)Kambing merupakan salah satu hewan ternak yang menguntungkan dalam waktu singkat jika dijadikan usaha. Kegiatan beternak kambing sudah biasa di lakukan oleh penduduk di jaman dahulu kala hingga saat ini khususnya di pedesaan. Namun kebanyakan skala usaha masih bersifat tradisional, rumahan, sampingan dan kecil-kecilan. Akan tetapi, saat ini ada sebagian pelaku usaha yang beternak kambing secara modern dan intensif hingga menghasilkan untung mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan. Hal ini menunjukkan bahwa usaha beternak kambing jika ditekuni secara serius sangat menguntungkan. Selain untuk dijual sebagai hewan kurban pada hari raya idul adha, kambing pun bisa dijual untuk acara akikah dan konsumsi.
Analisa Usaha Kambing Aqiqah
Suatu hari adik tercinta hendak mengadakan acara akikah untuk anak semata wayang yang baru lahir dan hendak berumur tujuh hari. Karena ingin praktis dan tak mau repot dengan penyembelihan kambing aqiqah maka ia pun menggunakan jasa usaha pelayanan kambing akikah bernama Sahabat Aqiqah. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 5 juta untuk pembelian kambing kualitas A yang kemudian disembelih dan dijadikan sayur. Adik tercinta langsung menerima banyak sayur daging kambing dari pihak perusahaan jasa kambing akikah di kota.

Usaha ternak kambing akikah sangat marak di perkotaan. Di berbagai sudut kota dan perempatan jalan sangat mudah kita jumpai papan iklan maupun spanduk yang berisi penawaran jasa layanan kambing akikah. Hal ini tak terlepas pangsa pasar yang sangat besar dari bisnis ini. Dan berdasarkan wawancara penulis di lapangan hampir semua perusahaan penyedia jasa kambing akikah mengeruk keuntungan lumayan besar dari bisnis ini perbulannya. Disebabkan akikah merupakan salah satu kegiatan ibadah yang bersifat wajib bagi orang beragama Islam yang mempunyai anak sudah berumur satu minggu atau dua minggu dengan menyembelih hewan kambing sebanyak satu ekor bagi anak wanita dan dua ekor bagi anak laki-laki. 

Bisnis layanan kambing akikah bisa dikombinasikan dengan usaha sejenis seperti menyediakan hewan sapi kurban, domba kurban, kambing kurban, layanan domba akikah dan usaha kambing hajatan serta bisnis peternakan kambing. Sehingga keuntungan bisa berkali-kali lipat didapatkan oleh anda.

Kini bukan hanya di kota yang bisa ditemukan usaha penyediaan kambing akikah, di pedesaan terpencil pun sudah mulai marak usaha layanan kambing akikah plus katering. Namun tidak sebesar dan semarak sebagaimana di kota. Hal ini berkaitan dengan permintaan yang sangat besar terhadap kambing akikah yang setiap tahun meningkat. Dalam satu minggu mungkin ada dua rumahtangga yang akan mengadakan acara akikah di satu kampung. Dan itu merupakan pangsa pasar dari usaha kambing akikah.
Besarnya permintaan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim terhadap kambing akikah setiap tahun tak terlepas dari semakin tingginya tingkat kesadaran umat Islam untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT secara kaffah atau menyeluruh seperti akikah. Hal ini didukung oleh mudahnya mengakses informasi mengenai cara pelaksanaan ibadah akikah yang mensyaratkan menyembelih hewan kambing akikah. Namun ada sebagian orang yang ingin simpel dan praktis, dari penyembelihan kambing hingga proses memasak dilakukan pihak usaha kambing akikah. Seperti yang dilakukan oleh adik tercinta. Dan ini banyak jumlahnya di Indonesia baik di perkotaan dan desa.

Atas kenyataan di atas, usaha penyediaan kambing akikah beserta kateringnya sangat menjanjikan untung besar. Keuntungan didapatkan dari penjualan kambing akikah dan usaha catering kambing akikah. Dan bisnis ini sangat cocok dan menguntungkan untuk dilakukan oleh para peternak kambing, sapi dan domba di Indonesia. Sehingga laba didapatkan bertambah besar bukan hanya dari usaha penjualan hewan ternak akikah tapi dari usaha katering akikah. Yang kadang keuntungannya lebih tinggi dari usaha penjualan kambing akikah.

Penulis melihat fakta saat ini di desa bahwa dalam satu pekan biasanya di satu kampung ada dua orang yang akan menyelenggarakan momentum akikah. Tentu hal ini memerlukan penyediaan kambing akikah. Dan kadang kambing akikah sulit didapat karena pasokan terbatas. Hal ini terjadi untuk wilayah pedesaan terpencil di sekitar penulis. Kalau di perkotaan temtu saja pangsa pasar lebih luas. Bahkan bisa saja terjadi penyediaan hewan ternak kambing akikah di kota maupun desa di Indonesia mengalami kehabisan stok. Yang membuat pemerintah bisa saja melakukan upaya impor tambahan bagi kambing dan domba akikah jika peternak lokal belum bisa memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang sangat besar terhadap kambing dan domba akikah.

Perhitungan Keuntungan Bisnis Kambing Aqiqah
Setelah melihat prospek yang sangat cerah dari bisnis kambing aqiqah bisa saja membuat anda langsung berminat untuk segera buka usaha kambing akikah di wilayah anda. Tapi tenang. Anda terlebih dahulu harus mengerti dan memahami seluk beluk alur usaha kambing akikah dari mulai pemilihan bibit kambing aqiqah, manajemen bisnis aqiqah, proposal usaha kambing aqiqah, modal usaha kambing aqiqah, cara memasarkan hewan kambing aqiqah, tips sukses usaha bisnis aqiqah menguntungkan dan lain sebagainya.

Bisnis layanan penyediaan kambing akikah mempunyai tujuan mulia yakni membantu umat muslim dalam menyediakan hewan kambing aqiqah untuk selanjutnya dijadikan hewan sembelihan dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap anak adam tergadai dirinya di hadapan Allah SWT dan untuk menebusnya maka harus dilakukan ibadah akikah bagi bayi berumur tujuh hari.

Pangsa pasar bisnis kambing akikah masih sangat besar. Bukan hanya dari penyediaan kambing akikah tapi juga meliputi usaha kuliner. Misalkan warung sate kambing, rumah makan yang menyediakan menu sop buntut kambing maupun sate kambing, restoran yang menyajikan menu daging kambing, usaha kaki lima gerobak sate kambing, dan konsumen perorangan yang membutuhkan daging kambing. Selain itu, usaha penyediaan kambing akikah bisa dikembangkan lebih lanjut dengan membuka usaha pembibitan kambing dengan pangsa pasar para peternak kambing lainnya.      

Usaha pelayanan kambing akikah beserta peternakannya sangat cocok dijalankan di wilayah pedesaan. Karena daya dukung sumber daya alam sangat menunjang. Seperti pakan kambing berupa daun atau tumbuhan yang mudah didapatkan di desa. Kemudian lahan yang masih luas, suasana yang sejuk dan cocok bagi pertumbuhan hewan kambing dan lain sebagainya. Namun untuk pangsa pasar bukan hanya di desa sekitar tapi bisa juga sampai ke wilayah perkotaan.

Kenyataannya, permintaan yang sangat besar terhadap kambing aqiqah membuat beberapa peternak kambing kewalahan memenuhi permintaan pasar tersebut. Seperti yang dialami oleh salah seorang peternak kambing, domba dan sapi di desa penulis bernama Abah. Setiap minggu beberapa ekor kambing dan domba habis terjual karena permintaan pasar yang sangat tinggi untuk kebutuhan aqiqah dan kurban dari satu kecamatan. Belum lagi permintaan kambing aqiqah dari kecamatan lain yang belum terpenuhi dengan baik. Sehingga bisnis kambing aqiqah sangat menjanjikan dan menguntungkan.

Selain itu, permintaan yang sangat besar akan daging kambing di masyarakat Indonesia belum terpenuhi secara baik oleh para peternak kambing lokal di tanah air. Disebabkan beberapa kendala dan hambatan yang ada. Namun ini membuat peluang usaha ternak kambing untuk kepentingan acara akikah dan konsumsi di masyarakat sangat menjanjikan untung besar. Siapa saja bisa masuk dalam bisnis ini. Baik pengusaha kambing akikah pemula maupun yang telah lama berkecimpung dengan pasar terbuka luas selamanya.

Anda jangan pernah melihat usaha ternak kambing aqiqah sangat kotor dan pekerjaan kasar. Tapi lihatlah keuntungan yang bisa didapatkan sangat menggiurkan. Penulis mengetahui hal ini karena mertua penulis sendiri seorang peternak kambing. Ia memiliki kambing sebanyak 10 ekor, dua ekor sapi dan lima ekor domba. Peternakan hewan ternak tersebut didirikan di kebun samping rumah dengan bentuk kandang yang sederhana.

Suatu hari penulis mengadakan acara akikah untuk anak penulis berjenis laki-laki yang baru berusia satu minggu. Satu ekor kambing untuk ibadah akikah dibeli dari mertua. Dan satu ekor kambing dibeli dari masyarakat sekitar. Harga per ekor kambing saat itu mencapai Rp 2 juta. sekarang ini tentu lebih mahal lagi mengikuti laju inflasi.

Setelah selesai acara akikah, kemudian penulis membeli satu ekor anak kambing berjenis kelamin betina seharga Rp 500 ribu dari hasil acara akikah tersebut. Dan dalam waktu tiga tahun, satu ekor kambing betina itu telah beranak pinak hingga mencapai lima ekor kambing. Kalau dijual semuanya, pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 10 juta ( Rp 2.000.000 x 5). Lihatlah betapa besarnya keuntungan dari bisnis ternak kambing akikah selama tiga tahun. Itu baru dilakukan secara kecil-kecilan dengan modal satu ekor kambing betina. Jika dijalankan secara serius dan profesional tentu keuntungan lebih besar dari itu dan bisa mengalahkan gaji karyawan swasta dan PNS.

Manajemen Bisnis Kambing Aqiqah
Namun untuk mengelola bisnis kambing akikah tidaklah mudah. Berikut ini beberapa hal yang harus anda lakukan untuk memulai bisnis beternak kambing aqiqah, antara lain:

▪ Pembuatan Kandang Kambing
Untuk membuat kandang ternak kambing bisa dilakukan menggunakan sisa-sisa kayu bekas atau dari bambu seadanya. Dengan atap genteng. Selain itu, kandang kambing secara rutin harus dibersihkan dari kotoran kambing supaya kambing tumbuh sehat dan terbebas dari kuman penyakit.  

▪ Memelihara Kambing Secara Telaten
Anda harus mampu merawat dan memelihara kambing secara baik. Setiap hari perlu diberikan makanan secara teratur dari pagi, siang dan sore. Anda pun harus mencari rumput dan daun bagi pakan kambing yang disebut ngarit oleh masyarakat desa. Akan tetapi semua kerja keras akan terbayar dengan keuntungan ternak kambing aqiqah yang fantastis.

▪ Promosi
Untuk promosi usaha penjualan kambing akikah bisa dilakukan secara offline maupun online. Misalkan memasang spanduk, membagikan brosur, promosi dari mulut ke mulut dan lain sebagainya. Selain itu bisa menggunakan media sosial untuk beriklan di media internet yang sangat efektif dan efisien.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa usaha kambing akikah merupakan jenis bisnis sangat menjanjikan. Dikarenakan pangsa pasar yang sangat luas baik di kota maupun desa. Selain itu, tingkat persaingan usaha kambing akikah masih sangat longgar. Dimana tidak banyak orang yang mau menggeluti usaha beternak kambing akikah. Karena terkesan kotor, dipandang sebelah mata, usaha orang pinggiran wong deso, ribet dan kasar.

Namun bagi anda yang ingin memiliki kekayaan melimpah dan cepat kaya justeru bisnis beternak kambing akikah dan kateringnya merupakan pilihan usaha yang tepat di masa sekarang untuk meraih kemakmuran ekonomi. Asalkan usaha kambing aqiqah dijalankan secara benar dan intensif. Dijamin penghasilan tidak dapat dipandang enteng. Banyak orang kaya baru dan jutawan lahir dari bisnis ternak kambing aqiqah. Hal ini karenakan pangsa pasar yang sangat luas ketika momentum aqiqah bagi setiap rumahtangga dan pada saat idul adha sedangkan pasokan yang terbatas. Disebabkan masih minim jumlah peternak kambing aqiqah di Indonesia.

Rincian Biaya Modal Usaha Kambing Akikah Tahap Awal
Setelah menguraikan panjang lebar tentang keuntungan bisnis kambing aqiqah selanjutnya bagi anda yang tertarik membuka usaha kambing aqiqah mungkin bertanya-tanya berapa modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis kambing akikah? Berikut ini rincian biaya modal usaha kambing akikah dari tahap awal sampai berdiri, antara lain:

▪ Mental dan Pengetahuan yang Kuat
Namanya juga usaha. Pastinya anda akan mengalami berbagai hambatan dan kendala dalam usaha kambing aqiqah. Namun selama anda kerja keras, terus belajar, fokus dan pantang menyerah maka segala hambatan dan kendala tersebut akan terlampaui dengan baik. Justeru akan membuat semakin anda kuat dan cerdas dalam usaha ternak kambing aqiqah. Mental usaha yang baik akan membawa kesuksesan bisnis kambing aqiqah di tahap awal sampai akhir.

Seorang peternak kambing yang mau sukses dalam usaha kambing aqiqah maka ia harus menguasai cara merawat kambing yang benar dan baik hingga besar. Sehingga kambing tumbuh dengan baik, sehat dan maksimal. Dan mengetahui bagaimana cara mengelola usaha kambing akikah yang baik. Serta ia mesti mengetahui cara menjual atau cara memasarkan ternak kambing aqiqah supaya keuntungan dapat langsung dirasakan secara cepat dan lumayan besar. Hal ini bisa dipelajari dengan menimba ilmu di peternak kambing akikah yang sudah pengalaman atau mempelajari dari sumber informasi di buku peternakan, majalah dan internet.

▪ Pembelian Kambing
Sementara itu, saking luasnya bisnis kambing aiqah ini maka usaha beternak kambing aqiqah ada tiga jenis, antara lain:

1. Penggemukan kambing aqiqah. Untuk penggemukan kambing sangat mudah. Tugas anda membeli anak kambing yang kecil kemudian membebsarkan. Pendek kata tugas sobat hanyalah membesarkan kambing. Setelah kambing gemuk atau mencapai usia satu tahun lebih maka anda bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi dari harga beli awal. Biasanya penjualan kambing mengalami masa laku keras pada saat menjelang hari raya haji atau jelang idul kurban. 

2. Pembibitan kambing aqiqah. Pastikan anda membeli indukan kambing yang bagus untuk menghasilkan bibit kambing berkualitas baik. Berikut ini ciri-ciri indukan kambing yang mempunyai kualitas sangat baik, antara lain:

   a. Kambing dalam kondisi sehat

   b. Bulu halus, tak ada kutu dan tak ada luka maupun cacat pada binatang kambing

   c. Kambing mempunyai kaki yang sangat kuat dan kompak

   d. Kambing mempunyai daging yang besar. Hal ini bisa dilihat dengan cara memegang leher bagian belakang kambing.

3. Bisnis jual beli kambing aqiqah. Dimana anda sebagai perantara atau mediator. Sedangkan kambing milik sang penjual yang mencari pembeli.

Anda bisa menentukan jenis usaha kambing aqiqah yang sanggup dilakukan dengan sumber daya yang ada. Namun bisa juga dijalani semuanya asalkan memiliki keterampilan mumpuni dan modal yang memadai. Harga satu ekor kambing saat ini dikisaran Rp 1 juta sampai Rp 3 juta.   

▪ Kandang Kambing Aqiqah
Untuk lokasi usaha ternak kambing aqiqah bisa dengan menyewa lahan milik orang lain maupun dengan mendirikan di atas tanah kosong milik sendiri. Alangkah baik jika menggunakan lahan milik sendiri sebagai lokasi kandang ternak kambing aqiqah. Untuk pembuatan kandang kambing memerlukan biaya sebesar Rp 2 juta.

▪ Biaya Transportasi
Apabila ada yang membeli kambing aqiqah maka anda bisa mengantarkan menggunakan mobil pick up terbuka agar sampai di tangan konsumen. Anda bisa menyewa mobil angkutan hewan ternak secara harian atau pun menggunakan mobil sendiri. Untuk harga sewa mobil trasnportasi sekitar Rp 100 ribu sekali pengiriman kambing.

Demikianlah uraian mengenai rincian biaya modal usaha kambing aqiqah tahap awal. Ternyata bisnis ternak kambing akikah bisa dimulai dengan modal kecil sekitar Rp 5 juta. Jika anda tidak mempunyai modal usaha sebesar itu maka anda bisa membuat proposal usaha kambing aqiqah dan menyebarkan kepada para anggota kerabat dan investor untuk mencari tambahan modal.


Biaya Usaha Kambing Akikah Tahap Awal (Bengkulu Aqiqah)

Monday, May 7, 2018

Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)

Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)
Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)
Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)Imam  Syafi’i berpendapat, bahwa penentuan hari ketujuh itu hanya lil ikhtiar (untuk pilihan) bukan litta’yin (untuk menentukan/memastikan).

Bila tidak mampu mengaqiqahi di hari ketujuh, maka masih boleh mengaqiqahi pada hari keempat belas/kedua puluh satu. Dan bila bayi ternyata meninggal sebelum hari ketujuh maka tidak perlu diaqiqahi. (HR. Ibnu Sunni)

Yang Disunahkan Pada Hari Aqiqah

Untuk anak laki-laki dua ekor kambing/domba, Karena Rasulullah mengaqiqahkan Al-hasan dengan dua ekor domba. Disunahkan agar bayi di beri nama pada hari itu dengan memilih nama yang terbaik, dicukur rambutnya lalu ditimbang kemudian di keluarkanlah sedekah berupa emas dan perak seberat rambutnya. Sabda rasulluah: “ setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, karena itu hendaklah disembelihkan untuk nya pada hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur rambut kepalanya”

Apakah Aqiqah Harus Hari Ketujuh (Bengkulu Aqiqah)

Tuesday, January 16, 2018

Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)

Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)
Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)
Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)Menyembelih hewan kurban adalah salah satu dari bentuk syi‟ar Allah SWT dan Sunnah

Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam al-Qur‟an:

“Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka
sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati”. (Qs. al-Hajj [22]: 32).

Umat Islam diperintahkan agar mengikuti perbuatan Rasulullah SAW sebagai suri
tauladan, sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Qs. al-Ahzâb [33]: 21). Dan salah satu perbuatan Rasulullah SAW yang mesti diikuti adalah menyembelih hewan kurban.

Imam Nawawi berkata, “Menurut mazhab kami (Mazhab Syafi‟i), berkurban itu lebih afdhal daripada bersedekah Sunnat, berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan masyhur tentang keutamaan berkurban dan karena dasar kewajiban melaksanakannya, berbeda dengan sedekah Sunnat. Juga karena berkurban itu adalah syi‟ar yang nyata”1. Meskipun boleh hukumnya bersedekah mengeluarkan uang seharga hewan kurban, akan tetapi berkurban tetap lebih afdhal, demikian disebutkan Imam Ahmad bin Hanbal secara nash2. Ibnu al-Musayyib berkata: “Saya lebih suka berkurban daripada bersedekah seratus Dirham”3.

Kesimpulannya, bersedekah mengeluarkan uang seharga hewan kurban itu hukumnya boleh. Namun lebih afdhal jika menyembelih hewan kurban. Akan tetapi dalam masalah ini perlu diperhatikan berbagai aspek; efisiensi, efektifitas, kondisi dan maslahat.

Apakah boleh berkurban dalam bentuk uang (Bengkulu Aqiqah)

Sunday, January 14, 2018

Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)

Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)
Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)
Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)Anak yang baru lahir, hendaknya diberi nama untuk dikenali. Nama tersebut dapat berpengaruh terhadap diri dan kepribadiannya. Banyak anak yang menderita lantaran diberikan nama-nama yang mengandung arti-arti yang tidak baik.

Waktu Pemberian Nama
Dalam banyak hadis disebutkan tentang diperbolehkannya memberi nama bayi saat ia dilahirkan, setelah tiga hari dan pada hari ketujuh, yaitu pada hari dimana dia diakikahkan. Dalam hal waktu pemberian nama untuk anak, kita diberikan kemudahan. Alhamdulillah. 

Adapun hadis yang menyebutkan tentang bolehnya memberi nama bayi pada hari kelahirannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari ra. berkata, “Anakku baru dilahirkan. Lalu aku membawanya menghadap Rasulullah Saw, kemudian beliau memberinya nama Ibrahim, beliau juga men-tahnik-nya dengan kurma (mengunyah kurma lalu menempelkannya di ujung jari kemudian memasukkannya dan mengoleskannya pada langit-langit mulut sang bayi).” 

Sementara dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis dari Sulaiman ibn Mughirah dari Tsabit bahwa Anas ra. Berkata. Rasulullah Saw telah bersabda, “Pada mala mini dilahirkan seorang anakku, lalu aku memberinya nama seperti nama ayahku, Ibrahim a.s.” 

Adapun hadis yang menerangkan tentang bolehnya memberi nama setelah tiga hari dari kelahirannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya bahwa Tsabit meriwayatkan dari Anas ra. bahwa seorang bayi hendaknya diberi nama setelah tiga hari dari kelahirannya. 

Sementara hadis yang menjelaskan tentang bolehnya memberi nama bayi pada hari ketujuh adalah hadis yang diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan dari hadis Samurah ibn Jundab bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, yaitu seekor kambing yang disembelih untuknya pada hari ketujuh lalu si anak diberi nama dan rambut kepalanya dicukur.” 
Jika terjadi perselisihan antara ayah dan ibu seputar nama anak maka perlu diketahui bahwa memberikan nama anak adalah hak ayah. 

Nama-nama yang Disunnahkan
Diantara hal yang harus dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya adalah memberikan nama yang bagus. Karena kelak di Hari Kiamat mereka akan dipanggil dengan nama tersebut dan dengan nama orang tua mereka. 

Maka jangan sampai (di akhirat kelak) seorang anak dipanggil dengan nama yang diharamkan atau nama yang buruk yang diberikan oleh orang tuanya pada saat hidup di dunia. Karena itu, Nabi memerintahkan untuk memberi nama yang baik kepada anak-anak. 

Setiap nama yang digabungkan kepada nama Allah, setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada-Nya atau nama-nama para Nabi itu semua termasuk nama-nama yang baik. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar ra. Berkata. Rasulullah Saw telah bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurahman.” 

Hadis diatas berbeda dengan apa yang dikatakan kalangan orang awam bahwa nama yang baik adalah semua nama yang berawalan ‘Abd atau Ahmad.

Nama-nama yang Dimakruhkan
Sebagaimana Rasul sangat menganjurkan orang tua memberi nama yang baik untuk anaknya, beliau juga sangat tidak menyukai pemberian nama anak-anak mereka dengan nama-nama yang membuat mereka merasa tidak nyaman atau membuat mereka diejek dan dihina oleh orang lain lantaran nama-nama itu.

Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud dari Samurah ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Empat perkataan yang paling disukai Allah, yaitu subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha ilallah, allahu akbar. Janganlah sekali-kali engkau menamakan anak dengan ‘Yasar’ (yang selalu mendapatkan kemudahan), ‘Rabah’ (yang selalu beruntung), ‘Najih’ (yang selalu berhasil), dan juga ‘Aflah’ (yang beruntung). Karena bila suatu saat engkau mempertanyakan, ‘Apakah anak itu (yang bernama seperti di atas) selalu sesuai dengan namanya?’ Pada kenyataannya sifat anak itu berbeda dengan nama yang disandangnya sehingga ia menjawab, ‘Tidak’.” 

Sebab yang menjadikan sebuah nama itu makruh diberikan kepada anak adalah karena dapat melenyapkan rasa optimisme anak yang bernama Yasar, Rabah, Najih, Aflah. Karena orang akan bertanya, “Apakah kemudahan ada padamu?” Ia menjawab, “Tidak.” Maka hati orang tersebut merasa tidak berkenan (bahkan sang anak dapat kehilangan rasa optimismenya). 

Nama yang juga termasuk kategori nama-nama di atas adalah Mubarak (selalu penuh berkah), Ni’mah (berlimpah kenikmatan), Khair (selalu baik), dan Surur (selalu bahagia). 

Diantara nama-nama yang dimakruhkan lainnya adalah memberi nama anak dengan nama yang mengandung makna penyucian diri. Seperti Karim atau Karimah (yang mulia), Barr atau Barrah (yang berbakti) sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Bukhari dan Sunan Abi Daud, dari Abu Hurairah ra., bahwa Zainab nama sebelumnya adalah Barrah (yang berarti wanita berbakti)-terambil dari kata al-birru (kebaikan)-maka Nabi menggantinya dengan Zainab.  

Sedangkan dalam riwayat Abu Daud disebutkan. “Janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri, sebab Allah lebih mengetahui siapa ahli kebaikan diantara kalian.” 

Dimakruhkan juga memberi nama anak dengan nama orang-orang yang telah dilaknat dan para diktator seperti, Fir’aun, Haman, Qarun, Namrud. Karena nama-nama tersebut adalah nama orang-orang yang telah diberi azab (siksa) oleh Allah SWT. di dunia. Allah juga menjanjikan siksaan yang pedih kepada mereka kelak di hari kiamat. 

Dimakruhkan juga memberi nama anak dengan nama orang-orang kafir Yahudi dan Nashrani atau dengan nama pemimpin-pemimpin kafir yang mengganti syariat Allah dengan aturan kafir. 

Dimakruhkan juga member nama anak dengan nama-nama Allah SWT. (Asma’al-Husna) seperti al-Ahad, ash-Shamad, as-Sami’, atau al-‘Alim. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang yang berhak memakai nama tersebut kecuali Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah).” (QS. Maryam: 65). 

Tetapi jika kita memberitahukan bahwa ada seseorang yang memiliki sifat Sami’ (mendengar), Ra’uf (penyayang), Rahim (pengasih), dan Bashir (mengetahui kondisi masyarakat) maka hal ini dibolehkan. 

Termasuk nama-nama yang dimakruhkan untuk digunakan seseorang adalah nama-nama malaikat seperti Jibril, Mikail, dan Israfil. Karena jika anak yang bernama seperti nama malaikat dicaci dan dihina maka hal itu (secara tidak langsung) dianggap menghina dan mengejek malaikat. 

Dimakruhkan juga menggunakan nama-nama surah dalam Alquran, seperti Thaha, Yasin, Qaf, Nun, Hamim. Adapun yang sering diungkapkan oleh kalangan awam bahwa Yasin dan Thaha adalah nama-nama Nabi Saw, tidaklah benar. 

Tidak ada hadis shahih, hasan, mursal bahkan atsar dari seorang sahabat sekalipun yang menjelaskan bahwa Thaha dan Yasin adalah nama-nama Nabi Saw Tidak ada seorang tabi’in atau pengikut tabi’in yang menyandang nama Thaha atau Yasin. Thaha dan Yasin (serta huruf-huruf lain sejenisnya dalam Alquran) hanyalah huruf-huruf yang terpotong-potong yang digunakan oleh Allah untuk menjelaskan I’jaz (mukjizat) Alquran kepada bangsa Arab (Allah menantang mereka membuat kitab seperti Alquran yang huruf-hurufnya sama dengan huruf-huruf yang mereka pakai seperti huruf ya, sin, tha, dan lain sebagainya) 

Dari semua nama-nama yang dimakruhkan di atas, dapat kita pahami bahwa Rasulullah Saw menyukai nama-nama yang mengandung kebaikan dan tidak menyukai nama yang buruk sehingga beliau menganjurkan untuk menggantinya.

Rasulullah pernah mengubah nama Abdul Uzza dengan Abdullah atau Abdurrahman, Sha’b (susah) menjadi Sahl (mudah), Ashiyah (ahli maksiat) menjadi Jamilah (si cantik), Abul Hakam menjadi Abu Syuraih, Ashram (tanah yang tandus) menjadi Zur’ah (lahan yang mudah diolah). 

Tidak hanya itu, mengenai nama-nama kabilah beliau juga memberikan komentar. Mengenai Kabilah Aslam (yang selamat) beliau berkomentar, “Semoga Allah member keselamatan padanya,” Kabilah Ghifar (ampunan) beliau berkomentar, “Semoga Allah memberikan ampunan kepadanya,” dan Kabilah Ushayyah (ahli maksiat) beliau berkomentar, “Mereka bermaksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.”. 

Beliau juga pernah mengganti nama tempat tinggal yang buruk dengan nama yang baik. Beliau mengganti Afirah (tempat yang berdebu) menjadi Khadhitah (tempat yang hijau), Syi’b Dhalalah (lembah kesesatan) menjadi Syi’b al-Huda (lembah petunjuk). Ketika Nabi Saw datang ke Madinah yang pada saat itu bernama Yatsrib (berarti mencela) menjadi Thaybah (baik) tidak heran kalau kota tersebut bertambah baik. 

Jadi, jelas bagi kita bahwa memberikan nama yang bagus merupakan perkara penting yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw. karena nama dapat berpengaruh terhadap kepribadian anak yang menyandang nama itu. 

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, dari Sa’ad ibn Musayyib dari ayahnya dari kaeknya, ia (kakek) menuturkan, “Aku pernah datang menemui Rasulullah Saw. lalu beliau bertanya, ‘Siapa namamu?’ Aku (kakek) manjawab, ‘Hazan’ (sulit atau kasar). Kemudian beliau bersabda, ‘Tidak, engkau adalah Sahl (mudah, lembut).’ Aku tidak mau mengubah nama yang telah diberikan ayahku.” Ibnu Musayyib menuturkan, “Dan ternyata, kekasaran menjadi karakter kami, di kemudian hari.” 

Diantara hal yang harus diperhatikan juga pada pembahasan kali ini adalah hendaknya para orang tua tidak memberikan nama anaknya dengan menggunakan nama-nama yang mengandung arti kepandiran atau nama-nama yang akan membuat sang anak merasa tidak nyaman dan diejek lantaran menyandang nama itu seperti, Nasywah (mabuk), Nuhad (kurang lebih), Gharam (cinta yang menyala), Huyam (cinta yang meluap), Ahlam (mimpi-mimpi), Asyjan (kesegihan), dan Syauq (kerinduan). 

Berkaitan dengan nama-nama tersebut, Syaikh Abdullah Nasih Ulwan berkomentar, “Bagi para orang tua hendaknya waspada, jangan sampai menggunakan nama-nama tersebut untuk anaknya, mengapa? Agar umat Islam memiliki kepribadian yang istimewa (berbeda dengan kepribadian umat yang lain) serta dapat dikenali dari berbagai karakteristik yang dimilikinya. 

Nama-nama di atas mengisyaratkan bahwa umat Islam telah kehilangan eksistensinya bahkan nama-nama tersebut akan menghancurkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat islam. Pada saat umat Islam telah sampai pada tahap yang memprihatinkan ini, mereka akan terpecah-pecah. Hal ini dapat memberikan peluang bagi musuh dan penjajah dengan mudah dapat menguasai tanah air umat Islam, serta dengan leluasa menjadikan pengikutnya yang mulia berubah menjadi hina sebagaimana yang kita saksikan zaman sekarang. La haula wa la quwwata illa billah. 

Nama-nama yang Diharamkan
Adapun nama-nama yang diharamkan penggunaannya adalah setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, seperti nama Abdul Uzza (hamba Uzza), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), Abdul Hubal (hamba Hubal), dan nama-nama lain yang serupa dengan itu yang baru muncul setelah abad ketiga dari masa Rasulullah seperti Abdurrasul (hamba rasul), Abdunnabi (hamba nabi), Abdu Muhammad (hamba Muhammad), Abdul Husain (hamba Husain), Abdul Ali (hamba Ali), Abdul Musthafa (hamba Musthafa), dan lain sebagainya. 

Diharamkan juga memberi nama Malikul Muluk (Raja Diraja), Sulthanus Salathin (Sultan Segala Sultan), Syahusyah (Raja Diraja). 

Disebutkan dalam shahihain sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah Malikul Muluk (Sang Raja Diraja) yang disandang oleh seseorang.”. Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya tidak ada Raja selain Allah.” 

Kunyah (Julukan)
Diperbolekan memberikan julukan (kunyah) kepada anak kecil dengan Abu Fulan atau Ummu Fulan, karena hal itu termasuk penghormatan kepada penyandang julukan tersebut. Disebutkan dalam Shahihain sebuah hadis dari Anas ra., ia menuturkan, “Nabi Saw adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki seorang saudara yang biasa dipanggil dengan julukan Abu Umair.” Perawi hadis menyebutkan pada akhir hadis, “Aku mengira, kala itu Abu Umair baru saja disapih.” 

Adapun hukum memberi julukan kepada anak kecil dengan julukan Nabi adalah makruh. Disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir, ia berkata, “Ada seorang anak lahir, lalu diberi nama Muhammad oleh ayahnya. Lantas, masyarakat di sekitar itu berkata, ‘Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah.’ 

Sang ayah pergi sambil menggendong anaknya menemui Rasulullah Saw. lantas ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki seorang anak, lalu kuberi nama Muhammad. Masyarakat di sekitarku berkata, ‘Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah.’ 

Rasulullah pun bersabda, ’Berilah nama anakmu dengan namaku. Namun, janganlah engkau memberinya kunyah (julukan) seperti kunyahku. Aku hanya ‘Qasim’ (seorang pembagi), yang membagi-bagikan kebaikan diantara kalian’.” 

Sementara Bukhari meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Saw bersabda, “Berilah nama anakmu dengan namaku, namun janganlah engkau memberinya kunyah (julukan) seperti kunyahku.” 

Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ali tentang adanya rukhshah (keringanan) tentang memberi julukan kepada anak kecil dengan julukan Nabi, ia berkata “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika anakku telah lahir, bolehkah aku menamainya dengan namamu dan member julukan dengan julukanmu? Nabi menjawab, ‘Ya’.” (Sanad hadis ini sahih)

Nama-nama Bayi (Bengkulu Aqiqah)

Tuesday, January 9, 2018

Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)

Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)
Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)
Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)Terdapat hadis-hadis dari Aisyah, bahwa beliau mengatakan,

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia; rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.”

Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah.

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan,

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zhahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi) bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ahli hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi, beliau hanya mengatakan, “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagai ana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silahkan dirujuk. (Faidhul Qadir, 5:198)

Karena itu para ulama menilai hadis ini sebagai hadis dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan,

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” (Syu’abul Iman, no. 6488).

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar,

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini dhaif. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan semuanya dhaif.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan, “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat, tidak mengapa.” Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19.

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Disamping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan, “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali bukanlah menganjurkan Anda untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali tidak menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat dilarang syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, di kubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan syirik kecil.

Selanjutnya, berikut hal penting yang perlu kita perhatikan terkait masalah semacam ini.

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan, “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:
Sebab syar’i, yaitu ketetapan bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran) bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (sunnatullah), adalah ketetapan bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiyah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syar’i maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk syirik kecil.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin tidak ada hubungan sama sekali antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang tidak berdasar dan tidak selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin yang berakal.
Allahu a’lam

Cara Mengubur Ari-Ari (Bengkulu Aqiqah)

Thursday, December 28, 2017

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)
Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)Sudah sepantasnya jika kita selaku umat Islam selalu mengikuti anjuran dan nasehat dari Nabi Muhammad Saw. sebagian dari nasehat beliau adalah agar para orang tua memberikan nama yg bagus dan penuh arti yg baik pada sang buah hati

Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits riwayat imam Abi Daud dari Abi Dardaara, yg bunyinya sbb:

Rasulullah berkata: sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-namamu dan nama-nama ayahmu. Maka baguskanlah nama-namamu

Maksud oemberian nama yg bagus serta memiliki makna yg penuh arti, mempunyai beberapa manfaat sbb:

  • mengamalkan anjuran Rasulullah Saw
  • enak didengar dan enak diucapkan karena karena pelafalan dan artinya bagus
  • nama yg bagus dan bagus dan bermakna akan memengaruhi jiwa dan kehidupan sang buah hati. hal ini diisyaratkan dalam sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan Sa’iid bin al-Musayyab dari ayah dan kakeknya:

ia berkata bahwa saya mendatangi Nabi Saw. Nabi bertanya “siapa namamu?” ia menjawab “saya Hazan (kesedihan)”. kemudian Rasul menggantinya dengan ucapan “kamu adalah Sahal (kemudahan)”. Hazan menjawab “saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan ayahku”. Ibnu Musayyab berkata “tidak akan berhenti kesedihan kepada kami setelahnya

secara tidak langsung ketika kita menyebut nama sang buah hati, kita sedang mendoakannya sesuai dengan makna dari nama tersebut. misalnya jika anda memilihkan nama shalih (berarti orang yg saleh) maka ketika kita memanggilnya, sama halnya dengan mendoakannya menjadi orang yang saleh
anak memiliki ciri/identitas ketika dipanggil, baik di dunia fana ketika bergaul dengan sesama dan ketika di akhirat ketika menghadap padaNya


Tips Memberi Nama Bayi yang Islami

  1. gunakan nama serta rangkaian nama yang merujuk pada kebaikan sifat, keunggulan karakter dan atau pada kebesaran Allah semata
  2. memberi nama dengan nama-nama Nabi dan Rasul, nama Imam Perawi Hadits atau para Sahabat Rasul yang saleh dan berbudi baik. teriring harapan agar kelak sang buah hati juga beroleh akhlak mulia seperti nama besar yang ia sandang
  3. hindari penggunaan nama yang menghamba pada kekuatan lain selain Allah misalnya: Abdul Uzza (hamba matahari), Abdul Qamar (hamba bulan) atau Abdul Nar (hamba api). juga pada nama berhala dewa-dewi yang disembah oleh orang-orang jahiliyah..                                                                                                                                                                                                                         " Diriwayatkan dari Hani bin Zaid bahwa ketika ia datang menghadap Nabi sebagai utusan beserta kaumnya, beliau mendengar mereka memanggil salah seorang dari mereka dengan Abdul Hajar. Lantas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” la menjawab, “Abdul Hajar.” Beliau bersabda, “Tidak, kamu adalah Abdullah (hamba Allah) bukan Abdul Hajar (hamba batu)"
  4. hindari nama yang merupakan gelar superior seperti Malikul Malik (raja diraja), Haakimul Hukkaam (hakim segala hakim), dll karena gelar-gelar superior seperti itu adalah milikNya semata
  5. jika ingin memberikan nama-nama Allah pada sang buah hati, jangan menggunakan alif dan lam, misalnya al-‘Aziz, as-Sayyid, al-Hakiim. al-Khaliq, ar-Rahiim, al-Quddus, dll. Yang demikian tidak boleh diberikan,  selain kepada Allah saja. adapun jika tanpa alif dan lam, maka diperbolehkan. Contohnya adalah: Rahman, Rahiim, Quddus, Sayyid, dll
  6. bagaimana dengan nama-nama modern (barat)? misalnya: Alex, John, Mark, Francis, dll. sebagai Muslim sebaiknya anda memberi nama sesuai dengan tuntunan syariah agar barokah. nama-nama bayi Barat mempunyai akar nama yg merujuk pada budaya, keyakinan dan agama lain yang pasti berbeda dengan Islam kan? :)



Mengganti Nama Buah Hati yang maknanya Buruk

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami – disebutkan dalam kaidah ushul Fiqh yaitu “perintah atas sesuatu merupakan larangan akan kebalikannya”. Rasulullah Saw menganjurkan agar para orang tua berusaha memberikan nama yang bagus dan bermakna baik dan sebaliknya beliau juga melarang memberikan nama yg maknanya jelek.

Bahkan beliau selalu mengganti nama orang yang dianggapnya jelek atau tidak bermakna. hal ini tergambar dalam sebuah hadits nabi dari Imam at-Turmudzi dan Imam Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra. dijelaskan bahwa Rasulullah   mengganti nama yang dianggapnya buruk menjadi nama yg berarti:

sesungguhnya nama anak perempuan Umar bernama Aas’hiyah kemudian Rasulullah menggantinya dengan nama Jamillah

Aas’hiyah berarti wanita yg pandai berhubungan intim (merujuk pada maksiat) dan Jamillah artinya wanita yang cantik

dari sini diisyaratkan bahwa setiap nama yg mengandung makna jelek atau makna yang kurang jelas dapat diganti dengan nama yang bagus bermakna. alangkah eloknya jika nama-nama bayi ini anda siapkan dan rancang sedini mungkin sebelum sang buah hati lahir.

Tips Memberi Nama Bayi yang Islami (Bengkulu Aqiqah)